Gerindra Ingin Pembahasan Korupsi Adil dan Ada Solusi

Gerindra Ingin Pembahasan Korupsi Adil dan Ada Solusi

Agen Domini Qiu Qiu, Agen Qiu Qiu Bandar Ceme, Capsa Susun – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengadakan diskusi bertopik ‘Jangan Lupakan Korupsi Soeharto’ di kantor ICW, Kalibata, Jakarta, dengan mendatangkan narasumber sejarawan Bonnie Triyana, Direktur Amnesti Internasional Indonesia Usman Hamid, akademisi Abdul Fickar Hadjar, serta Periset ICW Emerson Yuntho.Orang politik Partai Gerindra Andre Rosiade lihat hal tersebut begitu tendensius serta memojokkan pemerintah di jaman Orde Baru.

Dia menyebutkan, semestinya diskusi mempunyai spektrum lebih luas.”Sebab kan kita mencari jalan keluar penyelesaian korupsi. Bukan menghakimi seorang,” kata Andre, Kamis (6/12/2018).Pihaknya tidak punya maksud mengatur-atur materi yang dibicarakan oleh ICW. Akan tetapi menjadi instansi yang netral, semestinya mempunyai sikap sama.

Berarti, bahasan tentang penanggulangan korupsi mesti menyeluruh.”Terserah ingin membuat apakah, tetapi kan di semua jaman ada korupsi. Itu yang harusnya dibicarakan,” papar Andre.Dari jaman Belanda di Indonesia, Andre menyebutkan tingkah laku koruptif telah tampak. Hingga beberapa kasus korupsi memang berlangsung dari satu rezim ke rezim lainnya. Akan tetapi yang butuh perhatian lebih menurut dia jaman reformasi selesai Soeharto turun.Masalahnya katanya, reformasi tawarkan jawaban atas skema tata negara yang lebih baik dari Orde Baru. Akan tetapi sebenarnya, masalah korupsi masih tetap ramai berlangsung.

Baca Juga : Ini Data Korban Jatuhnya Crane di Kemayoran

Hingga bahasan tentang perihal ini terlihat lebih berkaitan.”Mengapa reformasi yang tuturnya jadi pembaruan, tetapi kok masih tetap ada korupsi,” ucap Andre.Bila ingin netral, ICW diinginkan Andre dapat jadi pemberi jalan keluar. Berarti, masalah korupsi yang dibicarakan mesti menyeluruh serta tidak parsial. Hingga benar-benar jawaban yang dikasihkan pada penduduk.

“Jadi janganlah satu rezim saja begitu,” tandas Andre.Sekjen Majelis Intelektual serta Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Haikal Hassan Baras memandang, diskusi itu tidak berkualitas, serta menyengaja akan menjatuhkan Partai Berkarya yang diinisiasi keluarga Cendana.

Ia menyatakan, malah korupsi besar-besaran berlangsung pada jaman saat ini.”Normal tidak ICW membuka korupsi orang yang telah wafat serta menguber aset-aset yang dipakai untuk pembangunan semua penduduk?,” bertanya Haikal selesai hadir diskusi yang diselenggarakan ICW itu. Semestinya lanjut Haikal, ICW konsentrasi dalam mengulas korupsi semenjak jaman Megawati sampai Presiden Joko Widodo (JOkowi) yang sekarang ini menjabat. Salah satunya masalah kapal tanker Pertamina, BLBI serta Bank Century.”Bagaimana ceritanya beberapa orang entrepreneur serta penguasa sekarang ini berkomplot untuk menggenjot, menggencet serta mendesak kehidupan rakyat. Kan terasa semakin sulit. (Diskusi) ini tidak kualitas begitu lho,” tuturnya.

Selain itu, ahli hukum pidana UII Mudzakir menjelaskan tidak fair bila beberapa pihak atau grup selalu mengalamatkan masalah korupsi ke waktu kepemimpinan Soeharto.”Silahkan kalkulasi statistik jumlahnya rata-rata per tahun saat ini. Banyak manakah? Saya tidak menjelaskan korupsi tidak ada saat itu. Jika banyak saat ini, pertanyaannya: yang guru korupsi siapa?,” bertanya Mudzakir.Semestinya, katanya, pemerintah, LSM serta alat lebih konsentrasi menyoroti tindakan teroris separatis yang dikerjakan dengan berulang serta meneror kedaulatan NKRI.”Ini hari LSM serta wartawan semua tumpul serta tidur pulas. 31 orang mati dibunuh separatis, ngomongnya grup kriminil bersenjata (KKB). Tidak ada masukan. Walau sebenarnya itu pelakunya grup makar,” tutur ia.